- Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
- Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
- Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
- Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
- Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
- Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
- Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
- W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
- T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
- Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
- Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).
- Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
- Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
- K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
- J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
- Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.
·
Siapakah Pembawa Islam ke Indonesia?
Sebelum
pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak
dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif,
akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan
China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan
demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya nadil melancarkan
perkembangan islam di kawasan Indonesia.
ü Gujarat (India)
Pedagang islam
dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
- ukiran batu nisan gaya Gujarat.
- Adat istiadat dan budaya India islam.
ü Persia
Para pedagang
Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
- Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
- Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
- Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
ü Arab
Para pedagang
Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara
lain:
- Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
- munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
ü China
Para pedagang
dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan ?), mengenalkan
islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain :
- Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
- Beberapa makam China muslim.
- Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.
Dari beberapa
bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan
cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh
toleransi (Umar kayam:1989)
·
Proses Awal Penyebaran Islam di Indonesia
ü Perdagangan dan Perkawinan
Dengan menunggu
angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli.
Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam
berkembang (masyarakat Islam).
Pembentukan masyarakat
Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudianberpengaruh ke
kaum birokrat (J.C. Van Leur).
Gerakan Dakwah, melalui dua jalur
yaitau:
a. Ulama keliling
menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi/lambing-lambang
budaya).
b. Pendidikan
pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok
Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.
Dari ketiga
model perkembangan Islam itu, secara relitas Islam sangat diminati dan cepat
berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan
aktualisasi keberagman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam
mencernanya.
Ditemukan dalam
sejarah, bahwa komunitas pesantrean lebih intens keberagamannya, dan memiliki
hubungan komunikasi “ukhuwah” (persaudaraan/ikatan darah dan agama) yang kuat.
Proses terjadinya hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren
memiliki komunikasi dan kemudian menjadi tulang punggung dalam melawan
colonial.
·
Tokoh-tokoh Sejarah
Islam di Sumatera
a. Sultan Malik Al-Saleh
Sultan Malik Al-Saleh adalah pendiri dan raja pertama Kerajaan Samudera
Pasai. Sebelum menjadi raja beliau bergelar Merah Sile
atau Merah Selu. Beliau adalah putera Merah Gajah.
Diceritakan Merah Selu mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya,
beliau berhasil diangkat menjadi raja di suatu daerah, yaitu
Samudra Pasai.
Merah Selu masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail,
seorang Syarif Mekah. Setelah masuk Islam, Merah
Selu diberi gelar Sultan Malik Al-Saleh atau Sultan
Malikus Saleh. Sultan Malik Al-Saleh wafat pada tahun
1297 M.
b. Sultan Ahmad
(1326-1348)
Sultan Ahmad adalah sultan Samudera Pasai yang ketiga. Beliau bergelar Sultan
Malik Al-Tahir II. Pada masa pemerintahan beliau, Samudera Pasai
dikunjungi oleh seorang ulama Maroko, yaitu Ibnu Battutah. Ulama
ini mendapat tugas dari Sultan Delhi, India untuk berkunjung ke Cina. Dalam
perjalanan ke Cina Ibnu Battutah singgah di Samudera Pasai. Ibnu Battutah
menceritakan bahwa Sultan Ahmad sangat memperhatikan perkembangan Islam. Sultan
Ahmad selalu berusaha menyebarkan Islam ke wilayah-wilayah yang berdekatan
dengan Samudera Pasai. Beliau juga memperhatikan kemajuan kerajaannya.
c. Sultan Alauddin Riyat
Syah
Sultan Alauddin Riyat Syah
adalah sultan Aceh ketiga. Beliau memerintah tahun 1538-1571. Sultan Alauddin
Riyat Syah meletakan dasardasar kebesaran Kesultanan Aceh. Untuk menghadapi
ancaman Portugis, beliau menjalin kerja sama dengan Kerajaan Turki Usmani dan
kerajaankerajaan Islam lainnya. Dengan bantuan Kerajaan Turki Usmani, Aceh
dapat membangun angkatan perang yang baik. Sultan Alauddin Riyat Syah
mendatangkan ulama-ulama dari India dan Persia. Ulama-ulama tersebut
mengajarkan agama Islam di Kesultanan Aceh. Selain itu, beliau juga mengirim
pendakwah-pendakwah masuk ke pedalaman Sumatera, mendirikan pusat Islam di
Ulakan, dan membawa ajaran Islam ke Minang Kabau dan Indrapura. Sultan Alauddin
Riyat Syah wafat pada tanggal 28 September 1571.
d. Sultan Iskandar Muda 1606-1637)
Sultan Iskandar Muda adalah sultan Aceh yang ke-12. Beliau memerintah tahun 1606-1637.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh mengalami puncak kemakmuran
dan kejayaan. Aceh memperluas wilayahnya ke selatan dan memperoleh kemajuan
ekonomi melalui perdagangan di pesisir Sumatera Barat sampai Indrapura. Aceh
meneruskan perlawanan terhadap Portugis dan Johor untuk merebut Selat Malaka.
Sultan Iskandar Muda menaruh perhatian dalam bidang agama. Beliau mendirikan
sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Baiturrahman. Beliau
juga mendirikan pusat pendidikan Islam atau dayah. Pada masa inilah,
di Aceh hidup seorang ulama yang sangat terkenal, yaitu Hamzah Fansuri.
Pada masa pemerintahan Sultan
Iskandar Muda, disusun sistem perundang- undangan yang disebut Adat
Mahkota Alam. Sultan Iskandar Muda juga menerapkan hukum Islam dengan
tegas. Bahkan beliau menghukum rajam puteranya sendiri. Ketika dicegah
melakukan hal tersebut, beliau mengatakan, “Mati anak ada makamnya, mati hukum
ke mana lagi akan dicari keadilan.” Setelah beliau wafat, Aceh mengalami
kemunduran
·
Tokoh-tokoh Sejarah
Islam di Jawa
Di pulau Jawa terdapat sembilan
ulama pelopor dan pejuang pengembangan Islam. Mereka adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel,
Sunan
Bonang, Sunan
Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus,
Sunan
Muria, dan Sunan Gunung Jati. Mereka lebih populer dengan
sebutan Wali Songo.
a. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Sunan Gresik juga dikenal dengan
nama Maulana Malik Ibrahim, Maulana Magribi atau Syekh
Magribi, dan Jumadil Kubra. Tapi masyarakat umum
di Jawa lebih mengenalnya sebagai Sunan Gresik, karena beliau menyiarkan
agama Islam dan dimakamkan di Gresik. Sunan Gresik adalah
pendiri pondok pesantren pertama di Indonesia.
Beliau menyebarkan agama Islam
dengan bijaksana. Waktu itu penduduk di sekitar Gresik belum beragama Islam.
Penyebaran agama yang dilakukan Sunan Gresik dapat diterima dengan cepat.
Beliau wafat pada tahun 1419 dan dimakamkan di Gresik.
b. Sunan Ampel (Raden
Rahmat)
Nama asli Sunan Ampel adalah Raden
Rahmat. Beliau adalah putra Maulana Malik Ibrahim. Beliau dilahirkan
di Campa, Aceh sekitar tahun 1401. Ketika berumur 20 tahun, Sunan Ampel hijrah
ke Pulau Jawa. Beliau meneruskan cita-cita dan perjuangan Maulana Malik Ibrahim.
Sunan Ampel memulai kegiatan dakwahnya dengan mendirikan dan mengasuh pesantren
di Ampel Denta, dekat Surabaya. Di pesantren inilah, Sunan Ampel mendidik para
pemuda untuk menjadi dai-dai yang akan disebar ke seluruh Jawa. Murid- murid
beliau yang terkenal adalah Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (raja/sultan
pertama kerajaan Demak), Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin
(Sunan Drajat), dan Maulana Ishak.
Sunan Ampel merancang kerajaan
Islam di Pulau Jawa, yaitu kerajaan Demak. Beliau yang mengangkat Raden Fatah
sebagai sultan pertama Demak. Selain itu, beliau juga berperan besar dalam
membangun Masjid Agung Demak. Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Jenazahnya
dimakamkan di daerah Ampel.
c. Sunan Bonang (Maulana
Makdum Ibrahim)
Sunan Bonang adalah penyebar
Islam di pesisir utara Jawa Timur. Beliau adalah putra Sunan Ampel. Nama lain
beliau adalah Maulana Makdum Ibrahim atau Raden
Ibrahim. Ketika masih remaja, bersama dengan Raden Paku, Sunan Bonang
dikirim oleh Sunan Ampel ke Pasai anakuntuk memperdalam ilmu agama. Sepulang
dari sana, beliau mulai berdakwah dengan cara menjadi guru dan mubalig. Beliau
juga mendirikan pesantren di daerah Tuban, Jawa Timur. Santri-santri yang
menjadi muridnya berasal dari berbagai daerah di Nusantara
Dalam menyebarkan agama Islam,
Sunan Bonang selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa.
Beliau dianggap sebagai pencipta gending (lagu) pertama dalam rangka siar agama
Islam. Sunan Bonang dan wali-wali lainnya, menggunakan wayang dan musik gamelan
sebagai sarana dakwah Islam. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu-lagu untuk
kegiatan dakwah yang dikenal dengan nama Tembang Durma. Sunan
Bonang wafat tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.
d. Sunan Giri (Raden
Paku)
Sunan Giri adalah seorang ulama yang menyebarkan agama di daerah Blambangan.
Beliau adalah saudara Sunan Gunung Jati. Nama asli beliau adalah Raden
Paku, dikenal juga dengan nama Prabu Satmata. Ketika
remaja beliau belajar agama di Pondok Pesantren Ampel Denta
yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Bersama Sunan Bonang, beliau
memperdalam ilmu agama di Pasai. Setelah kembali dari Pasai,
Sunan Giri menyebarkan agama Islam lewat berbagai
cara. Beliau mendirikan pesantren di daerah Giri. Sunan
Giri mengirim juru dakwah terdidik ke berbagai daerah di luar
Pulau Jawa, antara lain Madura, Bawean, Kangean,
Ternate, dan Tidore. Sunan Giri mendidik anakuntuk anak
melalui berbagai permainan yang berjiwa agamis, misalnya melalui permainan
Jelungan, Jamuran, Gendi Ferit, Gula Ganti, Cublak-cublak Suweng,
dan Ilir-ilir.
Selain aktif menyebarkan agama,
beliau juga menjadi pemimpin masyarakat di daerah Giri. Daerah yang dipimpinnya
kemudian berkembang menjadi kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Giri. Sebagai
raja Giri, beliau bergelar Sultan Abdul Faqih. Beliau juga
sangat berpengaruh dalam pemerintahan Kesultanan Demak. Setiap ada masalah
penting yang harus diputuskan, para wali yang lain selalu menanti keputusan dan
pertimbangannya. Sunan Giri wafat pada tahun 1506. Beliau dimakamkan di Bukit
Giri, Gresik.
e. Sunan Drajat
(Syarifuddin)
Sunan Drajat adalah penyebar agama Islam di daerah Sedayu, Gresik, Jawa Timur.
Beliau putra Sunan Ampel dan adik Sunan Bonang. Nama asli beliau adalah Raden
Kosim atau Syarifuddin. Namun, kebanyakan masyarakat
mengenalnya sebagai Sunan Sedayu. Untuk melancarkan kegiatan dakwah, Sunan
Drajat menciptakan satu jenis lagu yang disebut gending pangkur. Beliau
menjadikan Sedayu
sebagai wilayah penyebaran
dakwahnya. Murid-muridnya berasal dari berbagai wilayah Nusantara. Bahkan, ada
yang berasal dari Ternate dan Hitu Ambon. Sunan Drajat sangat menekankan sifat
sosial sebagai pengamalan agama Islam. Beliau memberi pertolongan kepada
masyarakat umum dan menyantuni anak yatim serta fakir miskin.
f. Sunan Kalijaga (Raden
Mas Syahid)
Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden
Mas Syahid. Beliau juga mendapat julukan Syek Malaya. Beliau
adalah putra seorang bupati Tuban, yang bernama Raden Sahur Tumenggung
Wilatikta. Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali berjiwa besar, berpikiran tajam,
dan berpandangan jauh.
Beliau berdakwah sebagai mubalig
dari satu daerah ke daerah lain. Karena dakwahnya yang intelek, beliau dapat
diterima di kalangan para bangsawan, kaum cendikiawan, dan para penguasa.
Beliau juga menjadi penasihat Kesultanan Demak. Sunan Kalijaga memiliki
pengetahuan luas dalam bidang kesenian dan kebudayaan Jawa. Beliau menggunakan
wayang dan gamelan sebagai sarana dakwah. Sunan Kalijaga mengarang cerita
wayang yang bernafaskan Islam. Selain itu, beliau juga berjasa dalam mengembangkanseni
ukir, seni busana, seni pahat, dan kesusastraan. Salah satu karya beliau yang
terkenal adalah lagu Ilir-ilir. Lagu ini berisi ajakan untuk masuk
Islam.
g. Sunan Kudus (Ja’far
Sadiq)
Sunan Kudus adalah putera Raden Umar Haji, penyebar agama Islam
di daerah Jipang Panolan, Blora, Jawa Timur. Nama asli beliau adalah Ja’far
Sadiq. Ketika kecil beliau biasa dipanggil Raden Undung.
Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Selain
menjadi pendakwah, Sunan Kudus juga menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak.
Beliau dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus. Di wilayah
tersebut, beliau menjadi pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin agama. Beliau
dianggap sebagai pendiri Masjid Raya Kudus. Masjid Kudus memiliki menara yang
indah. Oleh karena itu, masjid tersebut terkenal dengan nama Masjid Menara
Kudus. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 dan dimakamkan di kota Kudus.
h. Sunan Muria (Raden
Umar Said)
Sunan Muria adalah putra Sunan
Kalijaga. Nama aslinya Raden Umar Said. Beliau menjadi wali
yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan
pulau Jawa. Ciri khas Sunan Muria adalah menyiarkan agama
Islam di desa-desa terpencil. Beliau lebih suka menyendiri dan tinggal
di desa serta bergaul dengan rakyat biasa. Beliau mendidik rakyat di
sekitar Gunung Muria. Cara beliau menyiarkan agama Islam adalah dengan
mengadakan kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa.
Sebagai sarana dakwah beliau menciptakan Tembang Sinom dan
Kinanti.
i. Sunan Gunung Jati
(Syarif Hidayatullah)
Sunan Gunung Jati adalah wali yang banyak berjasa dalam menyebarkan agama Islam di
daerah Jawa Barat. Beliau masih keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Ibunya, Nyai Larang Santang, adalah putri Prabu Siliwangi. Sementara ayahnya,
Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah), adalah seorang bangsawan Arab. Nama
kecil beliau adalah Syarif Hidayatullah.
Ketika dewasa, Syarif Hidayatullah memilih berdakwah ke Jawa, daripada menetap
di tanah kelahirannya, Arab. Beliau menemui pamannya Raden Walangsungsang di
Cirebon. Setelah pamannya wafat, beliau menggantikan kedudukannya. Syarif
Hidayatullah berhasil meningkatkan Cirebon menjadi sebuah kesultanan.
Setelah Cirebon menjadi kerajaan
Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi Kerajaan Pajajaran yang belum
menganut Islam. Dari Cirebon Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke
daerah-daerah lain seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa,
dan Banten. Beliau meletakkan dasar bagi pengembangan dan perdaganan Islam di
Banten. Ketika beliau kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada Putranya, Sultan
Maulana Hasanuddin yang kemudian menurunkan raja-raja Banten. Sunan
Gunung Jati wafat pada tahun 1570. Beliau dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon,
Jawa Barat.
·
Tokoh-tokoh Sejarah
Islam di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku
Perkembangan Islam di wilayah
Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku juga terjadi melalui jalur perdagangan.
Perkembangan Islam di daerah ini semakin cepat karena peran putra-putra daerah
ini menuntut ilmu agama Islam ke Jawa. Ketika pulang mereka menjadi ulama yang
menyebarkan agama di daerahnya. Perkembangan Islam di wilayah ini ditandai
dengan berdirinya kerajaan Islam seperti Kesultanan Kutai Kertanegara, Ternate,
dan Kerajaan Gowa-Tallo. Beberapa tokoh dari sejarah perkembangan Islam di
Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku antara lain sebagai berikut.
a. Dato ri Bandang dan
kawan-kawan
Ada tiga mubalik asal
Minangkabau yang merintis penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Mereka adalah Dato
ri Bandang (Abdul Makmur Khatib Tunggal), Dato ri Patimang
(Sulaiman Khatib Sulung), dan Dato ri Tiro (Jawad
Khatib Bungsu). Dato ri Bandang bersama dengan Dato Suleman datang ke
Kerajaan Gowa-Tallo untuk menyiarkan agama Islam. Mereka berdua dengan giat
mengenalkan agama Islam dan seluk-beluknya kepada masyarakat setempat. Lambat
laun, banyak masyarakat yang tertarik memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam
Sultan Gowa tersebut bergelar Sultan Alauddin.
b. Sultan
Alauddin
Sultan Alauddin adalah raja Gowa ke-14. Beliau adalah raja Gowa pertama yang memeluk
agama Islam. Beliau masuk Islam bersamaan dengan raja Tallo. Raja Tallo
tersebut sekaligus menjadi Mangkubumi Kerajaan Gowa. Setelah masuk Islam, raja
Tallo itu dinamai Sultan Abdullah Awwal al-Islam.
SetelahSultan Alauddin dan Mangkubuminya Sultan Abdullah Awwal al-Islam masuk
Islam, berangsur-angsur rakyat Gowa-Tallo juga di-islamkan. Sultan Alauddin
juga berusaha menyebarkan Islam ke kerajaan tetangganya. Kerajaan-kerajaan yang
berhasil di-islam-kan antara lain Kerajaan Soppeng (1607), Wajo (1610), dan
Bone (1611). Beliau masih melanjutkan penyebaran Islam ke Buton, Dompu
(Sumbawa), dan Kengkelu (Tambora, Sumbawa).
c. Tuan Tunggang
Parangan
Tuan Tunggang Parangan adalah ulama yang menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai Kertanegara
di Kalimantan Timur. Awalnya di kerajaan ini ada dua ulama yang melakukan siar
agama Islam yaitu Tuan Tunggang Parangan dan Dato ri Bandang. Namun
setelah beberapa lama, Dato ri Bandang kembali ke Makasar (Kerajaan Gowa-
Tallo) melanjutkan siar yang telah beliau rintis di sana. Tuan Tunggang
Parangan tetap tinggal di Kutai. Berkat ajaran Tuan Tunggang Parangan, Raja
Aji Mahkota memeluk Islam. Hal itu diikuti oleh putranya, Ai
Di Langgar, yang menggantikan kedudukannya. Keislaman Raja Mahkota
diikuti juga oleh pangeran, hulubalang, dan seluruh rakyat Kutai. Penduduk yang
enggan masuk Islam semakin terdesak masuk ke pedalaman. Kerajaan Kutai
Kertanegara berganti nama menjadi Kesultanan Kutai Kertanegara. Ajaran Islam
berkembang pesat di kesultanan ini. Raja memberlakukan undang-undang kesultanan
yang berpedoman pada ajaran Islam.
d. Sultan Zainal
Abidin
Zainal Abidin adalah raja Kerajaan Ternate (1486-1500). Beliau pernah pergi ke
Giri, untuk belajar agama Islam. Ketika kembali dari Giri, beliau berusaha
memasukkan ajaran Islam dalam pemerintahannya. Beliau juga berusaha memperluas
pengajaran Islam untuk rakyat. Beliau mendirikan pesantren dan mendatangkan
guru-guru (ulama) dari Jawa. Selain itu, Zainal Abidin juga berusaha
menyebarkan Islam lewat ekspansi kekuasaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar